Things I Wish My Father Knew
Tidak semua kisah keluarga berakhir dengan pelukan. Ada yang berakhir dengan diam dan dengan air mata yang tak sempat jatuh.
Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Namun kalau di satu waktu yang sama Ayah menjadi sumber luka terbesar bagi anak perempuannya bagaimana? Apakah Ayah sebelumnya menyadari atau bahkan memikirkan itu?
Terkadang ada sosok Ayah yang tidak sadar kalau perbuatannya menyakiti anak perempuannya. Contoh kecilnya adalah, dengan Ayah menyakiti Ibu itu sudah menjadi luka kecil bahkan bisa menjadi luka besar yang meninggalkan bekas dan trauma tersendiri diantara keluarga kecil itu.
Semua orang tahu jika Ayah adalah kepala keluarga dan panutan dalam keluarga kecil itu. Lantas, apakah masih pantas disebut panutan yang selalu dibanggakan dalam keluarga jika karena suatu hal Ayah harus tega menggores luka di hati Ibu? Sampai Ayah juga tak sadar kalau hati putri kecilnya juga ikut tergores. Siapa juga yang tak sakit kalau melihat Ibunya hanya diam, tidak menangis saat hatinya sakit. Itu merupakan suatu bentuk kesedihan atas rasa sakit paling dalam sampai tidak bisa mengekspresikannya melalui tangis.
Beranjak dewasa, putri kecil Ayah bertemu dengan banyak laki laki dengan membawa luka yang dipikirnya sudah kering namun membekas dalam. Lalu, yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana anak perempuannya mempercayai laki laki diluar sana jika Ayah yang seharusnya menjadi sumber cinta dan kasih sayang namun justru menjadi sumber pengkhianatan atas rasa percayanya?
Miris jika dibandingkan dengan anak perempuan lain yang menginginkan pasangan yang memiliki sifat sama seperti Ayah mereka, tetapi tidak dengan anak perempuan satu ini. Bahkan rasanya sedikit malu mendambakan laki laki yang baik karena sejak dini belum tahu seperti apa laki laki yang baik itu. Karena sejatinya anak melihat bagaimana orang tuanya, dan orang tua merupakan contoh pertama bagi anak mereka.
Kemudian, seiring waktu anak perempuan itu sudah ikhlas dan berdamai akan semuanya. Karena menyadari mungkin ini pilihan terbaik untuk Ayah dan Ibu. Mungkin ini yang disebut mengikhlaskan itu juga satu bentuk dari mencintai. Mungkin dengan ini mereka akan menemukan bahagianya masing- masing. Kalau untuk urusan kebahagiaan anak perempuannya itu mudah, hanya dengan melihat hanya dengan melihat kedua orang tuanya tersenyum tulus tanpa berpura-pura saja, sudah cukup membuatnya ikut bahagia. Sebab bagi anak perempuan itu, kebahagiaan sejati bukan lagi tentang memiliki keluarga yang utuh, melainkan melihat orang-orang yang dulu dia cintai bisa hidup damai, meski tidak lagi bersama.
Anak perempuan itu belajar bahwa cinta tidak selalu berarti tetap bersama, kadang cinta justru berarti melepaskan dengan lapang dada. Dan meskipun luka masa lalu itu tak pernah benar benar hilang, kini dia menjadikannya pengingat bahwa dia mampu tumbuh dan bangkit, mampu mencintai tanpa dendam, dan mampu memaafkan tanpa harus melupakan. Karena pada akhirnya, dia hanya ingin menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, bukan karena ingin membuktikan sesuatu pada Ayah, tetapi karena dia layak untuk bahagia dengan caranya sendiri.
Comments
Post a Comment